sichengger

Mencari Jati Diri

Air Terjun Sunggah

Ponorogo Selain dikenal dengan kesenian reog, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur juga dikenal sebagai daerah yang mempunyai obyek wisata yang indah dan memesona. Diantaranya, Telaga Ngebel dan air terjun Banaran.

Namun, belum banyak yang tahu jika di Desa Selur, Kecamatan Ngrayun terdapat obyek wisata yang indah, alami dan memesona.

Air yang meluncur deras dari ketinggian, jatuh mengenai bebatuan yang ada di bawahnya menimbulkan suara gemericik air menambah suasana yang asri. Air yang berasal dari pegunungan ini terasa begitu dingin saat disentuh.

Selain dingin, air yang mengalir juga sangat jernih. Tak hanya itu, aliran air terjun Sunggah yang dibawahnya dipenuhi berbagai jenis ikan ini terus mengalir sepanjang tahun.

Biasanya, kalau musim kemarau, suara gemericik air akan terdengar sampai jauh. Suara gemericik air ini oleh masyarakat sini dijadikan sebagai pertanda akan datang musim kemarau. Selain airnya dingin dan jernih, pemandangan di sekitarnya juga masih alami.

Tak jauh dari air terjun Sunggah, di desa ini juga terdapat obyek wisata lain. Yakni, sebuah tebing batu besar yang berada di tengah-tengah padang rumput. Tebing batu ini oleh warga setempat kemudian dinamakan Watu Semaur, karena jika ada orang berteriak akan menggema seperti berteriak di dalam gua. Continue reading

12 August 2011 Posted by | alam | , | 22 Comments

Dawet Jabung

dsc019191

Emang enak yaw kalau kita punya kampung halaman yang mempunyai makanan yang khas. Tapi tentunya setiap daerah memiliki makanas khas tersendiri dan itu semuanya belum ada orang yang tau.

Waktu aku berkunjung ke kampung halaman tepatnya di Kota REOG yakni Ponorogo, aku ingat makanan khas sana. Mungkin yang dikenal yakni Sate Ponorogonya yang kebanyakan sudah dikenal orang Sate Ayam dengan bumbu yang sudah diracik lain dari pada yang lain sudah menjadi khas Ponorogo. Kini tak ketinggalan yakni Dawet Jabung.

Dawetnya sendiri terbuat dari tepung aren yang kemudian dibentuk seperti bentuk dawet umumnya. Kuah dawetnya terdiri dari santan kelapa muda yang ditambah dengan gula aren dan sedikit garam. Untuk memperkaya rasa, maka biasanya ditambahkan tape ketan dan irisan buah nangka. Semuanya dimasukkan salam satu mangkok kecil dan ditambah dengan es batu. Ehmm…Mak Nyusss dech. :)

Dawet ini sangat enak sekali, bisa dinikmati dalam berbagai suasana. Untuk harga dawet ini dibilang cukup murah. Dan tidak hanya dawet saja yang dihidangkan, jajanan gorenganpun siap saji. Seperti contoh pisang goreng, tempe goreng dll. Harga juga dibilang murah. Wahh….pasti ketagihan dech kalau sudah menikmatinnya. Aku aja ketagihan hehehehehe…..

Tapi..untuk mencari dawet jabung tidak disembarang tempat, hanya tempat tertentu saja yakni di desa Jabung sebelah selatan dari Alon-alon deket Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

11 August 2011 Posted by | kota | , , | 2 Comments

Sejarah Kota Ponorogo

Ponorogo – Melihat gerak yang ditampilkan para pelaku jenis kesenian khas Ponorogo, Jawa Timur, Reog Ponorogo, terlintas kesan mistis di dalamnya.
Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan. Minuman keras dan juga kendalanya. Tak lepas pula kekuatan supra natural. Barung mempertontonkan keperkasaan dalam mengangkat dadak berat seberat sekitar 40 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung.
Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, aneh, eksotis sekaligus membangkitkan gairah.
Tidak hanya satu versi yang diceritakan asal muasal kesenian Reog Ponorogo. Sebuah buku terbitan Pemda Kabupaten Ponorogo pada tahun 1993 menyebutkan, sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit.
Untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Tutu Suryo. Lebih lanjut cerita rakyat yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada jaman kekuasaan Batera Katong, penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu dilestarikan.
Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono Suwandono. Kesenian Reog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut agama Hindu Siwa. Masuknya Raden Patah untuk mengembangkan agama Islam disekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian reog ini. Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut Samagini.
Biar bagaimanapun cerita yang menyebutkan asal usul Reog Ponorogo bersumber yang jelas. Kini kesenian ini tidak hanya dijumpai di daerah kelahirannya saja. Biasanya satu group Reog terdiri dari seorang wWarok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya. Continue reading

11 August 2011 Posted by | kesenian, kota | , , | Leave a comment

   

%d bloggers like this: